Fungsi Sosiologi Untuk Mengenali Ragam Gejala Sosial di Masyarakat


A. SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU SOSIAL

Hakikat Ilmu Pengetahuan
Sebagai makhluk yang diberi akal budi, manusia memliki Hasrat untuk ingin tahu yang lebih tinggi (sense of curiocity) dibandingkan makhluk yang lainnya. Rasa dan Hasrat tersebut yang telah memotifasi manusia dalam proses untuk terus mencari sesuatu yang baru di luar dirinya. Dapat dikatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang selalu ingin bartanya dan mencari jawabannya.

Ilmu pengetahuan sendiri terdiri dari dua komponen yaitu “ilmu” dan “pengetahuan”. Ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang disusun secara sistematis dan diperoleh dari aktivitas berpikir manusia melalui metode tertentu yang kebenarannya dapat diuji kritis oleh orang lain. Sedangkan pengetahuan adalah kesan dalam pikiran manusia sebagai hasil dari penggunaan panca indranya.

Berikut ini ada beberapa definisi tentang ilmu pengetahuan menurut para ahli.

J. Heberer
Ilmu pengetahuan adalah suatu hasil aktifitas manusia yang merupakan kumpulan teori, metode, dan praktik, kemudian menjadi pranata dalam masyarakat

J.D. bernal
Ilmu pengetahuan adalah suatu panata atau metode yang membentuk keyakinan mengenai lama semesta dan manusia.

E. Cantote
Ilmu pengetahuan adalah suatu hasil aktifitas manusia yang mempunyai makna dan metode.

Cambridge-Dictionary
Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang benar, mempunyai objek dan tujuan tertentu dengan sistem metode untuk berkembang serta berlaku universal yang dapat diuji kebenarannya.

Tidak semua pengetahuan dinamakan ilmu. Pengetahuan yang diangkat sebagai ilmu apabila mempunyai sifat-sifat sebagai berikut.

a. Rasional
Ilmu pengetahuan didasarkan atas kegiatan berpikir secara logis dengan menggunakan rasa (nalar) dan hasilnya dapat diterima oleh nalar manusia.

b. Objektif
Kebenaran yang dihasilkan suatu ilmu merupakan kebenaran pengetahuan yang jujur, apa adanya sesuai dengan kenyataan objeknya, serta tidak tergantung pada suasana hati, prasangka, atau pertimbangan nilai pribadi.

c. Akumulatif
Ilmu dibentuk dengan dasar teori lama yang disempurnakan, ditambah, dan diperbaiki sehingga semakin sempurna.

d. Empiris
Kesimpulan yang diambil harus dapat dibuktikan melalui pemeriksaan dan pembuktian panca indra, serta dapat, diuji kebenarannya dangan fakta.

e. Andal dan Dirancang
Ilmu pengetahuan dapat diuji Kembali secara terbuka menurut persyaratan dengan hasil yang dapat dihandalkan. Selain itu, ilmu pengetahuan dikembangkan menurut suatu rancangan yang menerapkan metode ilmiah.

Berikut ini faktor-faktor yang dapat memengaruhi pengetahuan seseorang. Pendidikan menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami.
  • Pengetahuan yang mereka peroleh. Umumnya, makin tinggi pendidikan seseorang maka makin baik pula pengetahuannya.
  • Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang Kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permesalahan yang dihadapi pada masa lalu
  • Usia menentukan proses perkembangan mental seseorang. Umumnya, makin bertambah umur, maka akan baik mentalnya
  • Informasi akan memberikan penggaruh pada pengetahuan seseorang. Sumber informasi dapat bersumber dari tv, radio, atau surat kabar.
Dapat disumpulkan bahwa pengertian ilmu pengetahuan (knowledge) yang tersusun sistematis dengan mnggunakan kekuatan pemikiran, dan pengetauan tersebut selalu dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis.

Pengertian Sosiologi:
Sosiologi adalah ilmu yang mengkaji masyarakat.Sosiologi berasal dari bahasa Latin,yaitu socious yang berarti teman/masyarakat dan logos dari bahasa Yunani yang berarti ilmu. Ilmu sosiologi selalu mengarahkan manusia untuk berpikir dan melaksanakan perannya dalam kehidupan masyarakat (das sollen),sosiologi juga selalu mengkaji,mengimplementasikan,dan mempelajari peristiwa atau fakta sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat (das sein).Sosiologi merupakan ilmu yang membahas tentang hubungan antara manusia satu dengan manusia lain dalam hidup bermasyarakat.

Latar Belakang Lahirnya Sosiologi:
Sosiologi termasuk ilmu yang paling muda dari ilmu-ilmu sosiologi yang ada.Faktor pendorong utama munculnya sosiologi adalah meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat dan perubahan-perubahan yang terjadi didalamnya.Banyak ahli sepakat bahwa faktor yang melatarbelakangi kelahiran sosiologi adalah karena adanya krisis yang terjadi di dalam masyarakat. Pada abad ke-19 seorang filosof berkebangsaan Prancis bernama Auguste Comte,menulis beberapa buku.Buku tersebut berisi pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat.Berdasarkan kondisi tersebut,dapat dikatakan bahwa sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir dari perkembangan ilmu pengetahuan. Lahirnya sosiologi tercatat pada tahun 1842, August Comte menerbitkan jilid terakhir dari bukunya yang berjudul Positive-Philosophy.Beberapa pandangan penting yang dikemukakan oleh Auguste Comte tentang “Hukum Kemajuan Manusia” atau “Hukum Tiga Jenjang”. Dalam menjelaskan gejala alam dan gejala sosial,manusia akan melewati tiga jenjang.
  • Jenjang teologi, bahwa segala sesuatu dijelaskan dengan mengacu pada hal-hal yang bersifat adikodrati.
  • Jenjang metafisika, bahwa manusia memahami sesuatu dengan mengacu kepada kekuatan-kekuatan metafisik atau hal-hal yang bersifat abstrak.
  • Jenjang positif, bahwa gejala alam dan sosial dijelaskan dengan mengacu pada deskripsi ilmiah (jenjang ilmiah).
Cabang – Cabang Sosiologi
Sosiologi yang berkembang dalam masyarakat memiliki beberapa cabang yang disesuaikan dengan bidang keilmuannya.

a. Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan adalah cabang sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental,adapun materi yang dikaji antara lain peranan lembaga pendidikan dalam proses sosialisasi,peranan pendidikan dalam perubahan masyarakat dan lingkungan pendidikan itu sendiri,serta peranan pendidikan sebagai pranata sosial.

b. Sosiologi Agama
Sosiologi agama mempelajari hubungan antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan agama,dalam sosiologi agama dipelajari beberapa materi yang meliputi prilaku manusia yang berhubungan dengan keyakinan yang dipeluknya,peranan agama sebagai pranta sosial,peranan agama dalam perubahan masyarakat,dan peranan agama sebagai agen pengendalian sosial.

c. Sosiologi Hukum
Sosiologi hukum mempelajari kaitan antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan hukum.Materi yang dipelajari antara lain perilaku masyarakat dalam hubungannya dengan hukum yang berlaku,peran hukum dalam masyarakat,dan lembaga-lembaga yang berkaitan dengan hukum yang ada dalam masyarakat.

d. Sosiologi Keluarga
Sosiologikeluarga membahas kegiatan atau interaksi anatara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan keluarga.Hal yang dipelajari dalam sosiologi keluarga antara lain peranan keluarga dan masyarakat ,peranan keluarga dalam perubahan sosial,dan beberapa bentuk keluarga yang ada dalam masyarakat.

e. Sosiologi Industri
Industri dan masyarakat mempunyai hubungan yang erat ,karena adanya industry akan menimbulkan berbagai perubahan sosial dalam masyarakat.Sosiologi industry mengkaji hubungan antara fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat dengan kegiatan industry,peranan indutri dalam perubahansosial,aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pokok ekonomi(produksi,distribusi,dan komsumsi),serta hubungan indusri dengan berbagai struktur yang ada dalam masyarakat.

f. Sosiologi Pembangunan
Sosisologi ini mengkaji masyarakat dan pola aktivitasnya di dalam pembangunan antar lain pengaruh pembangunan dalam perubahan sosial,peranan pembangunan dalam kehidupan masyarakat,dan peranan pembangunan terhadap perekonomian masyarakat

g. Sosiolagi Politik
Sosiologi politik mempelajari tentang fenomena politik dengan mengaitkan variabel sosial dan variabel politik dalam wujud saling keterkaitan antara struktur sosial dan lembaga politik atau antara masyarakat dan negara.Ruang lingkup kajian sosiologi politik antara kain perilaku politik,lembaga politik,dan peranan politik dalam masyarakat

h. Sosiologi Pedesaan
Cabang sosiologi ini mempelajari masyarakat pedesaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan dan tempat tinggalnya,materi yang dipelajari anatara lain mata pencarharian hidup,pola hubungan,pola pemikiran,serta sikap dan sifat masyarakat pedesaan dalam kehidupan sehari-hari.

i. Sosiologi Perkotaan
Cabang sosiologi ini mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan dan tempat tinggalnya,materi yang dipelajari antara lain mata pencaharian hidup,pola hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya,dan pola pikir dalam menyikapi suatu permasalahan.

j. Sosiologi Kesehataan
Cabang sosiologi ini berusaha untuk mengkaji prilaku sakit,prilaku sehat,peran sehat,dan peran sakit para anggota masyarakat

Fungsi dan Peran Sosiologi
Sosiologi dan Sosiolog banyak memberikan peranan dalam pembangunan bangsa. Masyarakat yang terdiri atas manusia yang berkelompok dan saling berinteraksi satu sama lain, mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan manusia sebagai makhluk yang berakal dan berbudaya

Dengan demikian, masyarakat tidak bersifat statis (tetap) tetapi senantiasa dinamis (bergerak). Perkembangansetiap masyarakat berbeda-beda. Menurut Syani, fungsi sosiologi dikategorikan menjadi empat sebagai berikut:
  • Kegunaan sosiologi dalam perencanaan social
  • Data sosiologi dapat dimanfaatkan untuk perencanaan sebuah proyek penelitian dan penerapannya, maupun umtuk penilaian hasil penelitian tersebut
  • Sosiologi dapat memberikan data social pada tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi proses pembangunan
  • Pemecahan masalah social
Menurut Dr. Basrowi, M.S mempelajari sosiologi dapat bermanfaat sebagai berikut ini:
  • Sosiologi dapat memberikan pengetahuan tentang pola-pola interaksi social yang terjadi dalam masyarakat
  • Sosiologi dapat membantu kita untuk mengobrol atau mengendalikan setiap tindakan dan prilaku kita dalam kehidupan bermasyarakat
  • Sosiologi mampu mengkaji status dan peran kita sebagai anggota masyarakat, serta dapat membantu kita melihat dunia atau budaya lain yang belum kita ketahui sebelumnya
  • Dengan bantuan sosiologi, kita akan makin memahami nilai, norma, tradisi, dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat lain serta memahami perbedaan yang ada
  • Bagi kita sebagai generasi penerus kehidupan, mempelajari sosiologi membuat kita tanggap, kritis, dan rasional menghadapi gejala-gejala social masyarakat yang makin kompleks dewasa ini, serta mampu mengambil sikap serta tindakan yang tepat terhadap setiap situasi social yang kita hadapi sehari-hari

B. REALITAS SOSIAL SEBAGAI OBJEK KAJIAN

Konotasi umum dari istilah ”realitas” dalam kehidupan sehari-hari adalah ”kenyataan” atau ”yang nyata”. Para pakar sosiologi di Indonesia juga sering menggunakan istilah ”realitas” dan ”kenyataan” secara bergantian dengan maksud yang sama.

Dalam sosiologi, apa yang dimaksud sebagai realitas sosial adalah sesuatu yang dianggap nyata dalam kehidupan sosial, dan merupakan hasil konstruksi sosial. Pada paragraf pertama, kita sudah membaca bahwa konstruksi sosial melibatkan konsensus, interaksi, dan habituasi. Berger dan Luckmann melihat ketiga proses ini penting untuk membentuk sesuatu menjadi ”nyata”, ”real”, ”fakta”, dimata masyarakat.

Berger dan Luckmann menyebut tiga tahap bagaimana kenyataan dikonstruksikan secara sosial: eksternalisasi, objektivikasi, internalisasi. Simplifikasi penjelasan ketiganya sebagai berikut:
  • Eksternalisasi merupakan proses ide-ide yang muncul dari alam pikiran manusia menjadi sesuatu yang eksis di luar diri individu. Dengan kata lain, eksistensi ide tersebut sudah berada dalam struktur sosial.
  • Objektifikasi merupakan proses ide-ide tersebut menjadi objek dan mulai dipersepsikan sebagai kenyataan. Objektifikasi melibatkan konsensus, interaksi, dan habituasi. Ide-ide tersebut disepakati, berlangsung melalui proses interaksi sosial, dan dilakukan secara berulang-ulang. Proses objektifikasi bisa berlangsung sangat lama, lintas generasi, sehingga mungkin saja generasi yang baru menenerima sesuatu sebagai sebuah kenyataan, namun generasi awal tidak melihatnya demikian.
  • Internalisasi merupakan proses dimana kenyataan objektif atau sesuatu yang sudah mengalami objektifikasi, diserap masuk ke dalam diri manusia sebagai sebuah pengetahuan. Pada tahap ini, individu atau aktor melihat realitas sebagai kenyataan objektif, padahal sejatinya terbentuk dari ide-ide yang subjektif.
Setelah memahami tiga tahapan bagaimana kenyataan dikonstruksikan secara sosial, kita bisa melihat realitas sosial sebernanya tidak murni objektif, melainkan melibatkan unsur-unsur subjektif seperti ide, persepsi, dan opini.

W. I. Thomas memiliki pendapat yang bisa membantu kita mudah memahami tentang realitas, sebagai berikut: ”Jika manusia mendefinsikan situasi sebagai kenyataan, situasi itu nyata pada konsekuensinya”. Realitas atau kenyataan sosial menurut W. I. Thomas adalah konsekuensi dari definisi kita terhadap situasi. Bukan definisi situasi itu sendiri. Artinya apa yang kita anggap nyata adalah produk dari persepsi dan hasil interpretasi kita terhadap apa yang nyata.

Memahami pengertian realitas sosial dari deskripsi yang dikemukakan para ahli di atas barang kali cukup sulit karena terdengar terlalu filosofis. Saya akan sebutkan beberapa contoh realitas sosial dan menjelaskannya berdasarkan pengertian yang sudah disebutkan di atas.

Contoh realitas sosial  Masyarakat
Individu senantiasa hidup dengan individu lain dan melakukan interaksi. Kita menyebutnya sebagai masyarakat. Misal, setiap pagi seorang ibu pergi ke sawah untuk bertani, di jalan ia bertemu tetangganya mau ke pasar. Ketika berpapasan ia saling sapa. Petani itu membawa cangkul, pakai sandal japit dan selendang. Orang yang mau ke pasar bawa tas belanjaan, pakai sandal dan bawa duit. Tindakan saling sapa ketika bertemu di jalan, dan sesuatu yang dipakainya adalah kenyataan. Tidak ada yang aneh ketika orang yang saling kenal menyapa ketika berpapasan di jalan. Tidak ada yang aneh pula ketika orang mau ke pasar bawa tas belanjaan.

Begitulah cuplikan kecil tentang apa yang terjadi di masyarakat. Cuplikan itu membuat kita menerima begitu saja realitas sebuah kehidupan di masyarakat. Padahal, masyarakat dan dan segala aktivitasnya itu tidak hadir begitu saja. Tindakan saling sapa juga tidak hadir begitu saja, melainkan ditentukan oleh definisi mereka terhadap situasi.
Sekolah

Sekolah tempat murid belajar tidak eksis begitu saja. Sebelumnya tidak ada gedung sekolah dan tidak ada kesepakatan tentang gedung yang digunakan untuk sekolah. Sekolah itu ada karena pihak-pihak terkait membuat konsensus bahwa bangunan itu, aktivitas di dalamnya, serta sistem manajemennya disebut sebagai sekolah. Jika sekolah kamu sudah ada sebelum kamu jadi murid, maka sekolah itu adalah produk kesepakatan orang-orang sebelum kamu. Sekolah merupakan institusi sosial di bidang pendidikan. Dengan demikian, kita bisa melihat insitusi sosial sebagai realitas sosial. Tentunya, realitas tersebut dikonstruksikan secara sosial.

C. KEHIDUPAN SOSIAL SEBAGAI OBJEKTIVITAS

1. Realitas Objektif 
Secara keseluruhan realitas objektif dapat kita artikan dengan masyarakat yang mempengaruhi dan membentuk pribadi individu. Sifat dari realitas objektif berlaku umum,seperti halnya hokum fakta sosial Emile Durkheim yang juga memiliki sifat memaksa di luar individu. Realitas objektif juga dikatakan sebagai pengetahuan manusia yang bersifat masal(umum).

Perhatikan contoh berikut: 


a. Sarana belajar berperan penting terhadap kemajuan belajar seorang siswa. Adanya kelengkapan belajar yang memadai dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar yang dicapai siswa. 



Berdasarkan contoh dan gambaran di atas, siswa merupakan objek dari sarana belajar yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sarana belajar yang merupakan faktor eksternal mempengaruhi prestasi belajar siswa. Dalam sudut pandang kehidupan objektif tidak mempertimbangkan kemampuan dan motivasi seseorang secara pribadi. Hal tersebut menjelaskan bahwa prestasi siswa dipengaruhi oleh sarana belajar, tanpa melihat usaha, minat dan motivasi pribadinya. Realitas objektif dapat dikatakan sebagai pengetahuan manusia yang bersifat umum (massal) yang mempunyai sifat memaksa di luar masing-masing individu.

b. Prestasi siswa akan meningkat jika rajin belajar.


Berdasarkan contoh di atas, realitas objektif (pengetahuan umum) adalah diberlakukannya aturan jika rajin belajar, siswa dapat meningkat prestasinya. Namun, cara pandang tersebut menjadi pertanyaan seperti apa sebenarnya wujud dari rajin belajar tersebut? Realitas objektif tidak melihat karakter unik dari masing-masing individu, sehingga dapat dikatakan bahwa rajin belajar (subjek) merupakan langkah nyata untuk meningkatkan presetasi siswa (objek). Akan tetapi, ketika siswa menjadi subjek, pemahaman siswa terhadap prestasi dan rajin belajar akan sangat beragam maknanya.

2. Realitas Subjektif
Individu yang menkonstruksi dirinya sendiri dan keluar dari apa yang telah dipahami oleh masyarakat secara umum. Agar memiliki penjelasan yang lebih komprehensif perlu dilihat dari kacamata pelaku atau subjeknya. Subjek dalam hal ini bisa individu maupun intuisinya.

Perhatikan contoh berikut:

a) Rudi memiliki kebiasaan yang sedikit unik dari kebanyakan orang, ia belajar sambil mendengarkan musik rock. Menurutnya, intensitas belajar yang sedikit tetapi rutin, ampuh untuk mencapai prestasi yang diinginkan. Selain itu, menurut rudi prestasi bukan sekedar nilai dan piala, tetapi juga kebermanfaatan untuk orang lain.



Berdasarkan contoh di atas, Rudi sebagai subjek mengungkapkan pendapatnya terhadap cara-cara belajar yang umumnya di gunakan oleh sebagian orang. Rudi melakukan hal yang tidak dilakukan oleh siswa pada umumnya. Rudi sebagai subjek mengubah pandangan masyarakat tentang cara belajar dan pemahaman prestasi. Akan tetapi cara dan tindakan belajar Rudi sebagai subjek tidak harus diterima di masyarakat dan mungkin hanya Rudi yang dapat melakukan hal tersebut. Di lain sisi, pendapat dan pandangan Rudi sebagai subjek dapat memberikan pengaruh kepada orang lain atau bahkan mengendalikan posisi objek.

3. Kehidupan Sosial merupakan Proses Objektivitkasi
Objektivikasi merupakan proses dari gagasan atau pendapat masing-masing individu yang dikemukakan dengan cara berinteraksi dengan individu lain. Ketika gagasan atau pendapat dari seseorang disepakati dan menjadi gagasan umum di masyarakat, maka saat itu realitas subjektif berubah menjadi realitas objektif atau yang biasa disebut objektivikasi.

Perhatikan contoh berikut:

a) Alfredo merupakan peneliti yang tinggal di desa mayoritas nelayan. Selama proses penelitian, dia mengungkapkan terjadinya penurunan penyu di laut akibat penangkapan besar oleh nelayan. Karena kedekatannya dengan para nelayan, Alfredo sering sekali berkumpul dan mengobrol dengan mereka. Ketika berkumpul, ia mengungkapkan gagasannya kepada nelayan untuk tidak menangkap penyu. Hal tersebut langsung disepakati oleh nelayan, karena sebelumnya dari mereka pun sudah sadar bahwa penangakapan penyu berakibat terhadap kepunahannya. Akhirnya, seluruh nelayan secara bertahap tidak lagi menangkap penyu, secara adat pun sepakat bahwa penangkapan penyu akan mendapatkan sanksi. Aturan yang telah dibuat dan disepakati bersama disosialisasikan kepada pemuda-pemuda di desa tersebut yang nantinya akan berprofesi sebagai nelayan. 
Ilustrasi Proses Objektivikasi 
Berdasarkan ilustrasi di atas, kehidupan sosial merupakan proses objektivikasi individu yang selalu memiliki gagasan untuk menciptakan aturan dalam kehidupannya. Pengagas aturan pun pada akhirnya akan terpengaruh oleh aturan yang dibuatnya sendiri. Kehidupan sosial merupakan proses eksternalisasi, internalisasi, dan objektivikasi. Ketiga elemen ini bergerak secara berkesinambungan, artinya kehidupan sosial merupakan proses yang saling mempengaruhi antara objek dan subjek.

D. GEJALA SOSIAL DALAM MASYARAKAT

Apa itu Gejala Sosial?
Gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat dapat diartikan sebagai sebuah fenomena sosial. Munculnya fenomena sosial di masyarakat berawal dari adanya perubahan sosial. Perubahan sosial itu tidak dapat kita hindari, namun kita masih dapat mengantisipasinya. Perubahan sosial akan mengakibatkan beberapa dampak baik itu positif maupun negatif.

Perubahan sosial ada yang bersifat positif dan negatif, sehingga kita harus hati-hati dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Fenomena sosial yang ada dalam kehidupan sehari-hari dapat dapat menimbulkan masalah sosial. Adapun beberapa contoh fenomena sosial seperti munculnya kesenjangan sosial, demam musik luar (boyband/girlband), pencemaran lingkungan, dan lain sebagainya. Gejala sosial juga diartikan sebagai suatu pristiwa yang sering terjadi pada lapisan masyarakat, baik masyarakat tradisional maupun masyarakat modern.

Apa Saja Faktor Penyebab Gejala Sosial?
Adanya berbagai gejala sosial di masyarakat, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Faktor kultural merupakan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat/komunitas. Ada beberapa contoh gejala sosial berdasarkan faktor kultural, antara lain kemiskinan, kerjabakti, prilaku menyimpang, dsb. 
  • Faktor struktural merupakan suatu keadaan yang mempengaruhi struktur, struktur yang dimaksud adalah sesuatu yang disusun oleh pola tertentu. Faktor struktural dapat dilihat dari pola-pola hubungan antar individu dan kelompok yang terjalin dilingkungan masyarakat. Contoh gejala sosial yang dipengaruhi oleh faktor struktural seperti penyuluhan sosial, interaksi dengan orang lain dsb.
Apa Saja Macam-Macam Gejala Sosial

1. Ekonomi
Ekonomi merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pendapatan.Tingkat pendapatan yang dimiliki individu dapat menimbulkan gejala sosial dimasyarakat. Gejala sosial yang dilihat dari aspek ekonomi sangat berkaitan dengan perekonomian masyarakat. Bila ada seseorang yang kurang dapat mencukupi kebutuhan, maka akan terjadi beberapa gejala sosial dilingkungan sekitarnya. Dilihat dari segi ekonomi, gejala sosial yang terjadi di masyarakat dapat meliputi kemiskinan, pengangguran, masalah kependudukan dsb.

2. Budaya
Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam sehingga kita harus saling menghormati budaya lain. Adanya perbedaan jangan dijadikan sebagai alat pemecah persatuan, melainkan kita harus bersyukur karena keanekaragaman tersebut dapat menambah kekhasan budaya indonesia. Keanekaragaman budaya tidak hanya ada di Indonesia, tetapi setiap negara juga memiliki budaya dengan karakteristik yang berbeda-beda. Kita juga harus menghormati budaya asing. Keanekaragaman budaya di sekitar kita juga dapat menimbulkan gejala sosial, misalnya tindakan peniruan budaya asing yang negatif, kenakalan remaja dsb.

3. Lingkungan alam
Karakteristik gejala sosial dalam bidang lingkungan alam menyangkut aspek kondisi kesehatan. Seseorang yang terkena penyakit dapat menimbulkan gejala sosial di lingkungan sekitarnya. Contoh gejala yang ditimbulkan seperti munculnya, penyakit menular, pencemaran lingkunngan dsb.

4. Psikologis
Prilaku seseorang/individu dalam kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh aspek psikologisnya.Bila seseorang mengalami gangguan kejiwaan dapat menimbul kangejala sosial dimasyarakat, misalnya disorganisasi jiwa, alirana jalan sesat dsb.

Berikut Adalah Contoh-Contoh Gejala Sosial di Masyarakat
Gejala sosial yang ada didalam masyarakat berawal dari adanya perubahan sosial.Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan di lingkungannya. Perubahan sosial merupakan segala perubahan yang ada pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dan dipengaruhi sistem sosial, nilai, sikap, serta pola prilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Perubahan sosial dalam masyarakat dapat berdampak positif maupun negatif. Bagi masyarakat yang tidak dapat menerima perubahan sosial maka akan terjadi masalah sosial. Adapun contoh gejala sosial yang ada pada masyarakat.

1. Kemiskinan
Kemiskinan dapat dikarenakan tidak mampunyai seseorang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer. Namun dalam sosiologi, salah satu faktor penyebab munculnya maslah tersebut karena lembaga kemasyarakatan tidak berfungsi dengan baik, yaitu lembaga kemasyarakatan dibidang ekonomi. Permasalahan tersebut dapat menyebar ke bidang lainnya, seperti pendidikan, sosial, dsb. Dalam sosiologi, kemiskinan merupakan suatu gejala sosial yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Gejala sosial ini terjadi diberbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Kemiskinan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
  • Kemiskinan absolut, yaitu seseorang atau sekelompok orang tidak dapat memenuhi kebutuhan minimum hidupnya. 
  • Kemiskinan relatif, yaitu seseorang ataus ekelompok orang dapat memenuhi kebutuhan minimum hidupnya, namun dirinya masih merasa miskin bila dibandingakan dengan orang lain atau kelompok lain.
2. Masalah Remaja
Masa remaja adalah masa pencarian jati diri sehingga banyak remaja yang meniru tingkah laku orang lain. Tindakan remaja bila tidak terkontrol dapat menjadi suatu masalah sosial yang dapat merugikan diri sendiridan orang lain. Masalah remaja ini ditandai oleh adanya keinginan untuk melawan ataupun sikap apatis. Pada masa ini seharusnya mereka mengenal nilai dan norma-norma yang berlaku dimasyarakat. Dengan mempelajari norma di masyarakat, diharapkan mereka dapat berprilaku dan tidak melakukan perbuatan yang menyimpang. Prilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja dapat beragam, sebagai contoh membolos, mencontek, pelanggaran lalu lintas dan lain sebagainya.

3. Masalah kependudukan
Indonesia adalah negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang padat. Penduduk merupakan sumber penting bagi pembangunan. Hal ini dikarenakan penduduk menjai subjek dan obyek pembangunan. Dengan adanya pembangunan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk di suatu negara. Kesejahteraan penduduk juga mengalami gangguan yang dipengaruhi oleh perubahan demografis yang seringsekali tidak dirasakan. Masalah kependudukan dapat kepadatan penduduk, pemerataan penduduk yang tidak rata, ledakan penduduk dsb.

Masalah-masalah diatas perlu adanya penanggulangan, karena dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan penduduk. Adapun beberapa cara untuk mengatasi permasalahan tersebut diantanya:
  • Melalui program keluargaberencana (KB)
  • Transimigrasi,dan
  • Mengatur pertumbuhan jumlah penduduk
Apa Dampak Gejala Sosial di Masyarakat?
Terjadinya perubahan sosial-budaya di masyarakat merupakan salah satu akibat dari gejala sosial. Dampak gejala sosial ada yang bersifat positif dan negatif.

· Dampak positif
Gejala sosial yang ada di masyarakat harus kita sikapi dengan baik. Bila kita dapat terbuka dan mengimbangi perubahan sosial-budaya yang ada. Maka perubahan tersebut akan berdampak positif dan memberikan kita mamfaat. Hal ini dapat dilihat dengan kemajuan bidang tekhnologi. Dalam bidang tekhnologi kita mengenal tekhnologi komunikasi, seperitelepon, handphone, telegram, email, dsb. Dengan adanya alat komunikasi yang modern, maka, maka kita dapat melakukan interaksi jarak jauh tanpa harus bertemu secara langsung.

· Dampak negatif
Seseorang yang tidak dapat menerima perubahan yang terjadi akan mengalami keguncangan (culture shock). Ketidaksanggupan seseorang dalam menghadapi gejala sosial akan membawa kearah prilaku menyimpang.

Komentar

Popular Posts

Metode Etnografi Dalam Institusi Sosial

Penyusunan RPP 1 Lembar

Individu Kelompok dan Hubungan Sosial