CEO Ruang Guru Mundur dari Jabatan Staf Khusus Presiden, Ada Apa?
![]() |
| gambar: pinterst.com |
Pagi hari saya sudah dikagetkan dengan berita mundurnya salah satu staf khusus milenial Presiden, Adamas Belva. Sebelumnya, Ia diangkat oleh Presiden sebagai staf khusus agar diharapkan dapat berkontribusi memberi ide-ide cemerlang kepada bapak presiden Joko Widodo.
Tidak heran, Belva merupakan salah satu lulusan universitas luar negeri Paman Sam, Harvard University dan Standford University. Dalam karirnya, Ia juga menjadi pendiri sekaligus sebagai direktur utama platform dalam bidang pendidikan dan teknologi, Ruang Guru.
Perkembangan teknologi yang semakin canggih, menjadikan Ruang Guru sebagai platform nomor satu di Indonesia. Akses internet yang semakin berkembang memudahkan siswa-siswi di Indonesia untuk belajar dengan menggunakan aplikasi tersebut.
Saya sendiri sebagai guru juga menggunakan aplikasi tersebut. Inovasi pembelajaran dan metode yang digunakan sangat beragam sehingga saya bisa mengadopsi proses pembelajaran tersebut ke dalam kelas.
Terlepas dari manfaat penggunaan aplikasi Ruang Guru, mundurnya Belva dari jabatan staf khusus presiden tentu mengundang banyak pertanyaan dikalangan publik. Ada apa dibalik mundurnya Belva?
Menurut beberapa sumber, Belva mendapat kritikan dari berbagai pihak, Ia disinyalir menggunakan previlase sebagai staf khusus presiden untuk memuluskan Ruang Guru sebagai mitra program Kartu prakerja.
Program Presiden itu memang menjadi buah bibir akhir-akhir ini, apalagi di tengah pandemi Covid-19. Kucuran dana yang tidak sedikit diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mendapatkan kerja setelah mendapatkan pelatihan dari kartu prakerja.
Ruang Guru sebagai salah satu mitra dalam menyediakan pelatihan bagi masyarakat mengundang banyak kritikan dari berbagai pihak. Previlase Belva sebagai staf khusus dianggap berpotensi menimbulkan konflik interest.
Bukan tidak mungkin, Belva yang juga CEO Ruang Guru bisa saja menggunakan previlase itu. Kepentingan untuk meningkatkan bisnis sekaligus mempertahankan status quo yang dimilikinya.
Namun, setelah mendapat kritikan dari berbagai pihak, Belva akhirnya menyatakan mundur. Ia beralasan, polemik tentang dirinya diharapkan tidak mengganggu kerja Presiden dalam menangani covid-19 di Indonesia.
Sikap gentleman yang diambil oleh Belva merupakan keputusan yang tak terduga. Melihat banyaknya pejabat-pejabat di pemerintahan yang sering melakukan blunder tapi tidak mengambil sikap yang sama dengan Belva.
Alih-alih mereka mundur, para pejabat tersebut malah saling membela satu sama lain, kalau pun mengakui kesalahan dengan membuat klarifikasi di media, eh malah di ulang lagi kedua kalinya.
Diangkatnya 10 anak muda milenial ke dalam istana, memang sudah mendapat psimitis dari masyarakat. Terlebih gaji yang didapat oleh masing-masing dari mereka mencapai setengah ratus juta, angka yang fantastis bagi saya sebagai seorang guru.
Ide-ide yang diharapkan dari kesepuluh milenial tersebut tak kunjung terlihat dan berdampak ke masyarakat. Malah banyak pihak meminta mereka untuk dibubarkan saja. Toh, kerjanya juga nggak jelas.
Namun, apapun itu, semua tergantung dari Bapak Presiden Joko Widodo sebagai kepala negara. Beliau yang mengangkat, beliau pula yang harus membubarkan.
Tapi nih yah, kalau Bapak Presiden membutuhkan pengganti Belva, ehm, saya juga siap kok pak. Lagipula, saya nggak punya bisnis apapun di luar sana selain mengandalkan gaji guru yang sedikit tapi cukup untuk hidup seadanya.
Potensi konflik interest pun susah, apalagi mau jadi oligarki, kayak itu tuh, wkwk ~
Ah, sudahlah, daripada mikirin Belva mundur, mending kita fokus di rumah aja, jaga pola hidup bersih, dan juga makan makanan yang bergizi, agar tubuh sehat dan tidak gampang terjangkit virus Covid-19.
Oleh: Guru Honor

Masokk kakak
BalasHapus